Senin, 21 November 2011

LINGKUNGAN PENDIDIKAN: PENTINGNYA LINGKUNGAN KELUARGA BAGI PENDIDIKAN DAN PERKEMBANGAN ANAK

Ika ML Hasibuan


I.       PENDAHULUAN

Istilah keluarga dalam sosiologi menjadi salah satu bagian ikon yang mendapat perhatian khuus. Keluarga di anggap penting sebagian dari masyarakat secara umum. Individu terbentuk  karena adanya keluarga dan dari keluarga pada akhirnya akan membentuk masyarakat. ( Abdul Latif:2009:19).
Lingkungan memiliki peran penting dalam perkembangan dan tingkah laku anak. Khususnya lingkungan keluarga. Kedua orang tua adalah pemain peran ini. Peran lingkungan dalam perkembangan dan tingkah laku anak, baik lingkungan pra kelahiran maupun lingkungan pasca kelahiran adalah masalah yang tidak bisa dipungkiri khususnya lingkungan keluarga. Lingkungan Pendidikan : Sartain, seorang ahli Psikologi Amerika mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lingkungan (environment) meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes kecuali gen-gen. menurut defenisi diatas ternyata bahwa di dalam lingkungan atau disekitar manusia tidak hanya tidak hanya terdapat sejumlah factor pada suatu saat, tetapi terdapat pula factor-faktor lain yang banyak sekali, yang secara potensial sanggup atau dapat mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku individu.
Yang dimaksud lingkungan pendidikan adalah semua lingkungan yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Ada pengaruh yang bersifat langsung dan ada pula yang bersifat tidak langsung. Lingkungan pendidikan dapat dibagi atas lingkungan yang bersifat social (yang berhubungan dengan manusia) dan ada lingkungan yang bukan manusia tetapi alam, diantaranya (keadaan geografis daerah perkotaan, daerah pedesaan dan pedalaman, daerah pegunuingan, daerah pantai), iklim (tropis, musim hujan, musim kemarau, daerah dingin), lapangan kehidupan (pertanian, kelautan, industry dan perdagangan), hasil-hasil budaya, dan peninggalan sejarah. Sedangkan lingkungan manusia dapat dibagi menjadi tiga bagian yakni, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Karena begitu besar pengaruh ketiga lingkungan tersebut terhadap pertumbuhan dan perkembangan seseorang, maka Ki Hajar Dewantoro menyebutnya dengan Tri Pusat Pendidikan.
Lingkungan keluarga adalah sebuah basis awal kehidupan bagi setiap manusia. Banyak hadis yang meriwayatkan pentingnya pengaruh keluarga dalam pendidikan anak dalam beberapa masalah seperti masalah aqidah, budaya, norma, emosional dan sebaginya. Keluarga menyiapkan sarana pertumbuhan dan pembentukan kepribadian anak sejak dini.
Dengan kata lain kepribadian anak tergantung pada pemikiran dan perlakuan kedua orang tua dan lingkungannya. Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak yang dilahirkan berdasarkan fitrah, Kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya dia yahudi atau nasrani atau majusi”.
Perlu ditekankan bahwa lingkungan tidak seratus persen mempengaruhi manusia, karena Allah menciptakan manusia disertai dengan adanya ikhtiar dan hak pilih. Dengan ikhtiarnya, manusia bisa mengubah nasibnya sendiri.
Dalam tulisan ini akan mencoba mengkaji peran lingkungan keluarga dalam pembentukan pribadi seseorang. Lingkungan adalah sesuatu yang berada di luar batasan-batasan kemampuan dan potensi genetik seseorang dan ia berperan dalam menyiapkan fasilitas-fasilitas atau bahkan menghambat seseorang dari pertumbuhan.Lingkungan jika dihadapkan dengan genetik ia adalah faktor luar yang berpengaruh dalam pembentukan dan perubahan kepribadian seseorang baik itu faktor-faktor lingkungan pra kelahiran atau pasca kelahiran yang mencakup lingkungan alam, lingkungan ekonomi dan lingkungan sosial.
Dalam hal ini yang akan dibahas adalah lingkungan sosial yang di dalamnya terdapat lingkungan keluarga yang sangat berperan dalam perkembangan dan tingkah laku yang tentunya tidak terlepas dari peran keluarga.


II. PEMBAHASAN

Teori Nilai Menurut Realisme dan  Aliran Empirisme
Prinsip sederhana realisme tentang etika ialah melalui asas ontologi bahwa sumber semua pengetahuan manusia terletak pada keteraturan lingkungan hidupnya. Dapat dikatakan bahwa mengenai masalah baik-buruk khususnya dan keadaan manusia pada umumnya, realisme bersandarkan atas keilumuan dan lingkungan. Perbuatan seseorang adalah hasil perpaduan yang timbul sebagai akibat adanya saling hubungan antara pembawa-pembawa fisiologis dan pengaruh-pengaruh dari Iingkungan.
Menurut aliran empirisme bahwa pada saat manusia dilahirkan sesungguhnya dalam keadaan kosong bagaikan “tabula rasa” yaitu sebuah meja berlapis lilin yang tidak dapat ditulis apapun di atasnya. Sehingga pendidikan memiliki peran yang sangat penting bahkan dapat menentukan keberadaan anak. Pendidikan dikatakan “Maha Kuasa” artinya Pendidikan memiliki kekuasaan dalam menentukan nasib anak. John Locke menganjurkan agar pendidikan disekolah dilaksanakan berdasarkan atas kemampuan rasio dan bukan perasaan. Aliran ini meyakini bahwa dengan memberikan pengalaman melalui didikan tertentu kepada anak, maka akan terwujudlah apa yang diinginkan. Sementara itu pembawaan yang berupa kemampuan dasar yang dibawa seseorang sejak lahir diabaikan sama sekali. Penganut aliran ini masih berkeyakinan bahwa manusia dipandang sebagai makhluk yang dapat dimanipulasi karena keberadaannya yang pasif.
Keluarga sebagai entitas terkecil dalam masyarakat merupakan bagian yang sangat sentral dalam membangun karakter anak. Keberhasilan anak tidak ditentukan oleh pendidikan formal semata, tetapi juga pendidikan dalam keluarga. Selain itu, komunikasi yang baik antara anak dan orang tua menjadi kunci dalam membangun keluarga utama. Karakter tidak ditentukan oleh tempat pendidikan yang hebat. Akan tetapi keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan karakter seseorang. “sekolah saja tidak cukup, dalam membangun karakter keluarga utama, mau tidak mau kita harus menoleh kepada keluarga. Keluarga berkontribusi dalam memberikan nilai-nilai, sehingga anak bisa menemukan identitasnya.
Saat ini sepertinya, tidak terjadi kerjasama antara keluarga dengan institusi pendidikan formal. “anak yang dianggap nakal, orang tuanya akan memasukkan anaknya ke pesantren, seolah-olah pesantren adalah tempat pembuangan. Padahal hal itu tidak menjamin ada perbaikan karakter anak. Di sisi lain,institusi pendidikan formal, mempunyai kurikulum sendiri yang kadang kala tidak sesui dengan keinginan keluarga. Disinilah pentingnya singkronisasi, sehingga tidak terjadi tabrakan”, katanya menambahkan. Sementara itu, Saat Suharto berpendapat, hal yang sangat penting adalah pola komunikasi antara anak dengan orang tua. Banyak orang tua yang gagal dalam membangun komunikasi dengan anak-anaknya. “salah satu contoh misalnya, bagaimana orang tua menjelaskan pekerjaannya kepada anak-anaknya, sehingga anak mengetahui apa aktivitas orang tuanya diluar rumah, sehingga anak tidak bertanya-tanya ketika orang tuanya berada diluar rumah”.
Pola komunikasi yang dibangun juga haruslah berkualitas. Komunikasi yang berkualitas juga harus dibarengi dengan intensitas pertemuan yang cukup dengan anak. “jika orang tua berangkat pagi, paling tidak intensitas pertemuan dengan anak bisa lebih ditingkatkan dan juga kualitas pertemuannya merupakan bagian dari intensitas itu”.
Keluarga utama lahir dari pribadi-pribadi utama, untuk itu keluarga utama perlu di tata baik dari sisi hanif, akhlak, maupun qalbunya.
Sesuai dengan kedudukan dan fungsinya, keluarga sebagai lembaga pendidikan yang pertama dan utama, maka tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak adalah merupakan peletak dasar bagi pendidikan pengembangan kepribadian anak, seperti akhlak, norma susila, tatakrama kehidupan, keagamaan, sopan santun, kejujuran dan pembentukan sifat dan sikap yang baik lainnya. Pentingnya pendidikan dalam keluarga yakni misalnya Anak-anak tidak dapat melarikan diri dari stres dan tekanan-tekanan yang datang dari lingkungan kehidupan sekarang. Tetapi mereka dapat belajar untuk mengatasinya , sebagai orangtua, kita dapat membantu anak kita dengan beberapa cara: Ajarikan  untuk mencari jalan keluar atas masalah-masalah yang dihadapi. Anak perlu belajar untuk mengenali masalah, jalan keluar yang memungkinkan, yang setuju akan jalan keluar yang memungkinkan dan yang tidak setuju akan jalan keluar  yang memungkinkan, kemudian pilihlah yang terbaik. Dalam hal ini terkadang kita perlu memberikan kepercayaan pada mereka untuk menjalani keputusannya walau kita tahu ke mana arah keputusan itu. Berikanlah  pengalaman pada mereka. Janganlah terjebak dalam paradigma “saya tidak ingin anak saya terperosok ke dalam lubang yang sama dengan saya”Jika hal  itu tidak menyangkut hal yang fatal biarkan mereka mengalaminya sendiri dan kita tetap dukung mereka dengan cara tetap membuka hati kita untuk mereka.
Bicaralah dengan anak remaja kita, carilah waktu yang khusus untuk berbicara. Cari tahu apa yang terjadi dalam hidupnya. Jujurlah dan terbukalah dengan dia. Ceritakanlah tentang tujuan keluarga dan diskusikan kesulitan-kesulitannya, tanpa membebani mereka dengan masalah-masalah kita. Pujilah anak-anak ketika mereka melakukan hal-hal yang bagus, dan jangan lupa pelukan-pelukan dan ciuman-ciuman atau sentuhan fisik lainnya seperti tepukan di bahu atau belaian di kepala. Salah satu bahan pembicaraan menarik adalah pengalaman hidup kita.
Pastikanlah anak kita juga mempunyai waktu yang tenang sehingga dia dapat bersantai. Ajarilah dia latihan-latihan fisik seperti bermain bola, skating, berenang, berlari, berjalan, bersepeda. Kegiatan-kegiatan tersebut juga mengurangi stres. Jadilah pendukung. Saling menghormati dan berbagilah bantuan yang berharga selama waktu stres. Anak memerlukan kita untuk mengeluarkan energi negatifnya. Dia juga mendapatkan manfaat dengan melihat bagaimana kita berhasil mengatasi stres.
Disamping itu, keluarga juga perlu meletakkan kerangka berpikir yang dinamis pada diri anak. Adapun prinsip dan bentuk keluarga yang dianut, namun dalam kelurgalah pendidikan yang sangat penting yang perlu dipahami, yakni bahwa pendidikan keluarga memberikan warna (blue print) pada pembentukan kepribadian anak selanjutnya. Ayah dan ibu perlu member waktu, betapapun sibuknya, untuk memberikan perhatian pada pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Hasil pendidikan yang diperoleh anak dalam keluarga akan menentukan pendidikan anak itu selanjutnya, baik di sekolah maupun di masyarakat.



Comunius (1592-1670), seorang ahli didaktik yang terbesar, dalm buku Didaktica Magna, disamping mengemukakan asas-asas didaktiknya yang sampai sekarang masih dipertahankan kebenarannya, juga menekankan betapa pentingnya pendidikan keluarga itu. Ia menegaskan  bahwa tingkatan permulaan bagi pendidikan anak-anak dilakukan di dalam keluarga yang disebutnya scola-materna (SEKOLAH IBU).

Salah satu dampak krisis moneter adalah bertambahnya kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi karena semakin mahalnya harga-harga. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut salah satu caranya adalah menambah penghasilan keluarga...akhirnya kalau biasanya hanya ayah yang bekerja sekarang ibupun ikut bekerja.
Ibu yang ikut bekerja mempunyai banyak pilihan. Ada ibu yang memilih bekerja di rumah dan ada ibu yang memilih bekerja di luar rumah. Jika ibu memilih bekerja di luar rumah maka ibu harus pandai-pandai mengatur waktu untuk keluarga karena pada hakekatnya seorang ibu mempunyai tugas utama yaitu mengatur urusan rumah tangga termasuk mengawasi, mengatur dan membimbing anak-anak. Apalagi jika ibu mempunyai anak yang masih kecil atau balita maka seorang ibu harus tahu betul bagaimana mengatur waktu dengan bijaksana. Seorang anak usia 0-5 tahun masih sangat tergantung dengan ibunya. Karena anak usia 0-5 tahun belum dapat melakukan tugas pribadinya seperti makan, mandi, belajar, dan sebagainya. Mereka masih perlu bantuan dari orang tua dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Bila anak itu dititipkan pada seorang pembantu maka orang tua atau khususnya ibu harus tahu betul bahwa pembantu tersebut mampu membimbing dan membantu anak-anak dalam melakukan pekerjaannya. Kalau pembantu ternyata tidak dapat melakukannya maka anak-anak yang akan menderita kerugian.
Pembentukan kepribadian seorang anak dimulai ketika anak berusia 0-5 tahun. Anak akan belajar dari orang-orang dan lingkungan sekitarnya tentang hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Anak yang berada di lingkungan orang-orang yang sering marah, memukul, dan melakukan tindakan kekerasan lainnya, anak tersebut juga akan bertumbuh menjadi pribadi yang keras. Untuk itu ibu atau orang tua harus bijaksana dalam menitipkan anak sewaktu orang tua bekerja. Kadang-kadang hanya karena lingkungan yang kurang mendukung sewaktu anak masih kecil akan mengakibatkan dampak yang negatif bagi pertumbuhan kepribadian anak pada usia selanjutnya. Seperti kasus-kasus kenakalan remaja, keterlibatan anak dalam dunia narkoba, dan sebagainya bisa jadi karena pembentukan kepribadian di masa kanak-kanak yang tidak terbentuk dengan baik.
Untuk itu maka ibu yang bekerja di luar rumah harus bijaksana mengatur waktu. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga memang sangat mulia, tetapi tetap harus diingat bahwa tugas utama seorang ibu adalah mengatur rumah tangga. Ibu yang harus berangkat bekerja pagi hari dan pulang pada sore hari tetap harus meluangkan waktu untuk berkomunikasi, bercanda, memeriksa tugas-tugas sekolahnya meskipun ibu sangat capek setelah seharian bekerja di luar rumah. Tetapi pengorbanan tersebut akan menjadi suatu kebahagiaan jika melihat anak-anaknya bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan stabil.
Sedangkan untuk ibu yang bekerja di dalam rumahpun tetap harus mampu mengatur waktu dengan bijaksana.
Tetapi tugas tersebut tentunya bukan hanya tugas ibu saja tetapi ayah juga harus ikut menolong ibu untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga sehingga keutuhan dan keharmonisan rumah tanggapun akan tetap terjaga dengan baik.


III. PENUTUP

Masa anak merupakan periode perkembangan yang cepat dan dapat terjadinya perubahan dalam banyak aspek perkembangan. Pengalaman masa kecil mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan berikutnya. Pengetahuan tentang perkembangan anak dapat membantu mereka mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya dan melalui pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak dan pembentukan karakter atau kepribadian anak yang bermula dari lingkungan pertama dan lingkungan terkecil yaitu lingkungan keluarga.
Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu kedudukan keluarga dalam pengembangan kepribadian anak sangatlah penting. Orang tua adalah contoh atau model bagi anak, orang tua mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi anak ini dapat di lihat dari bagaimana orang tua mewariskan cara berpikir kepada anak-anaknya, orang tua juga merupakan mentor pertama bagi anak yang menjalin hubungan dan memberikan kasih sayang secara mendalam, baik positif atau negatif.
Demikianlah, tidak dapat disangkal lagi betapa pentingnya pendidikan dalam lingkungan keluarga bagi perkembangan anak-anak menjadi manusia yang berpribadi dan berguna bagi masyarakat. Tentang pentingnya pendidikan dalam lingkungan keluarga telah banyak dinyatakan oleh banyak ahli pendidikan.
                                                                                                  

Saran

            Sebaiknya sebagai orang tua hendaknya selalu memperhatikan dan memberikan pengawasan serta bimbingan kepada anak-anaknya. Hal ini sangat diperlukan karena anak rentan terhadap pengaruh lingkungan. Orang tua harus memberikan teladan yang baik untuk anak-anaknya karena orang tua sangat berperan dalam pembentukan kepribadian, yakni pertumbuhan dan perkembangan anak.







DAFTAR  PUSTAKA

Pendidikan Berbasis Nilai Kemasyarakatan. Bandung: PT Refika Aditama
Tim Pengajar Unimed.2009. Filsafat pendidikan (Diktat).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar