Senin, 21 November 2011

FILSAFAT PENDIDIKAN DALAM ISLAM,PRINSIP SERTA METODE PENGEMBANGANNYA

Nama          : Diah Utari Prasetia
Nim            : 309122016
Jurusan      :Pendidikan antropologi

A. Pendahuluan
Setiap orang memiliki filsafat walaupun ia mungkin tidak sadar akan hal tersebut. Kita semua mempunyai ide-ide tentang benda-benda, tentang sejarah, arti kehidupan, mati, Tuhan, benar atau salah, keindahan atau kejelekan dan sebagainya.
1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Definisi tersebut menunjukkan arti sebagai informal.
2) Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan yang sikap yang sangat kita junjung tinggi. Ini adalah arti yang formal.
3) Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan.
4) Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep.
5) Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsung yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.
Dari beberapa definisi tadi bahwasanya semua jawaban yang ada difilsafat tadi hanyalah buah pemikiran dari ahli filsafat saja secara rasio. Banyak orang termenung pada suatu waktu. Kadang-kadang karena ada kejadian yang membingungkan dan kadang-kadang hanya karena ingin tahu, dan berfikir sungguh-sungguh tentang soal-soal yang pokok. Apakah kehidupan itu, dan mengapa aku berada disini? Mengapa ada sesuatu? Apakah kedudukan kehidupan dalam alam yang besar ini ? Apakah alam itu bersahabat atau bermusuhan ? apakah yang terjadi itu telah terjadi secara kebetulan ? atau karena mekanisme, atau karena ada rencana, ataukah ada maksud dan fikiran didalam benda .
Semua soal tadi adalah falsafi, usaha untuk mendapatkan jawaban atau pemecahan terhadapnya telah menimbulkan teori-teori dan sistem pemikiran seperti idealisme, realisme, pragmatisme. Oleh karena itu filsafat dimulai oleh rasa heran, bertanya dan memikir tentang asumsi-asumsi kita yang fundamental (mendasar), maka kita perlukan untuk meneliti bagaimana filsafat itu menjawabnya.
B. Pengertian Filsafat pendidikan Islam
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Selain itu terdapat pula teori lain yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophia: philos berarti cinta, suka (loving), dan sophia yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi, Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau lazimnya disebut Pholosopher yang dalam bahasa Arab disebut failasuf.
Sementara itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahsan atau semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau kebikasanaan sebagai sasaran utamanya. Filsafat juga memilki pengertian dari segi istilah atau kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau pengertian dari segi praktis.
Selanjutnya bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti yang lazim digunakan dalam praktek pendidikan. Dalam hubungan ini dijumpai berbagai rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si – terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Berdasarkan rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan, yaitu:
(1) Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar;
(2) Ada pendidik, pembimbing atau penolong;
(3) Ada yang di didik atau si terdidik; dan
(4) Adanya dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut, dan.
(5) Dalam usaha tentu ada alat-alat yang dipergunakan.
Sebagai suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah.
Sebagai sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran. Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long life education ).
Dari uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.
Dasar pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah al Qur’an dan al Hadist Firman Allah : “ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang benar ( QS. Asy-Syura : 52 )” Dan Hadis dari Nabi SAW : “ Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)”
Dari ayat dan hadis di atas tadi dapat diambil kesimpulan :
  1. Bahwa al Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridloi Allah SWT.
  2. Menurut Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.
  3. Al Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan Islam. Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini.
Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya. Corak pendidikan itu erat hubungannya dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit, dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik. Kalau teori pendidikan hanyalah semata-mata teknologi, dia harus meneliti asumsi-asumsi utama tentang sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek pendidikan yang melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan mengandung unsur filsafat. Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap dua tendensi itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan buat memperoleh beberapa hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya didalam sistem pendidikan, hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat menyempurnakan suatu hasil dengan sukses, yang ada pada hakikatnya belum dipertimbangkan dengan hati-hati sebelumnya.
Sedangkan para ahli filsafat pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi yang tinggi yang penuh dengan debat tiada berkeputusan,akan tetapi tanpa adanya gagasan jelas buat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ideal. Tidak ada satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau dengan mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa. Tidak dapat dihindari, bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar.
Sebagai ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses pendidikan Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir sesepuh muslim, maka sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan islam yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan kemajuan.
Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia :
  1. Menyadarkan secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta tanggung jawab dalam kehidupannya.
  2. Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya.
  3. Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya
  4. Menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami hikmah tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya
Setelah mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa Filsafat Pendidikan Islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadist sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai sumber sekunder.
Pendidikan Islam merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen penting yang saling berhubungan. Di antara komponen yang ada dalam sistem tersebut adalah metode yang dipakai dalam proses pendidikan. Pengkajian terhadap metode memang menjadi bahan diskusi yang aktual dan menarik untuk diperbincangkan, sebab metode turut menentukan berhasil tidaknya proses pendidikan yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Bahkan metode sebagai seni dalam mentransfer ilmu pengetahuan berupa materi pelajaran kepada peserta didik dianggap lebih signifikan dibanding dengan materi itu sendiri. Cara penyampaian materi dengan komunikatif lebih disenangi oleh peserta didik walaupun sebenarnya materi yang disampaikan tidak begitu menarik. Oleh .karena itu penerapan metode yang keberhasilan dalam proses belajar mengajar yang pada akhirnya berfungsi sebagai diterminasi kualitas pendidikan. dikehendaki akan membawa kemajuan keterampilan. Secara fungsional dapat merealisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam tujuan pendidikan.
Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.
C. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Penjelasan mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa filsafat pendidikan Islam telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian tentang filsafat pendidikan Islam. Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang kajiannya atau cakupan pembahasannya. Muzayyin Arifin menyatakan bahwa mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, ysng tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan.
D. Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam
Prof. Mohammad Athiyah Abrosyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan 5 tujuan yang asasi bagi pendidikan Islam yang diuraikan dalam “ At Tarbiyah Al Islamiyah Wa Falsafatuha “ yaitu :
  1. Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia. Islam menetapkan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam.
  2. Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi keagamaan saja dan tidak hanya dari segi keduniaan saja, tetapi dia menaruh perhatian kepada keduanya sekaligus.
  3. Menumbuhkan ruh ilmiah pada pelajaran dan memuaskan untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu bukan sekedar sebagai ilmu. Dan juga agar menumbuhkan minat pada sains, sastra, kesenian, dalam berbagai jenisnya.
  4. Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat mengusai profesi tertentu, teknis tertentu dan perusahaan tertentu, supaya dapat ia mencari rezeki dalam hidup dengan mulia di samping memelihara dari segi kerohanian dan keagamaan.
  5. Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidikan Islam tidaklah semuanya bersifat agama atau akhlak, atau sprituil semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada segi-segi kemanfaatan pada tujuan-tujuan, kurikulum, dan aktivitasnya. Tidak lah tercapai kesempurnaan manusia tanpa memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan.
E. Metode Pengembangan Filsafat Pendidikan Islam
Secara umum metode berfungsi sebagai pemberi jalan yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan pendidikan. Dari sudut filosofis, metode merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Penerapan metode yang tepat sangat berpengaruh terhadap pencapain keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Metode yang tidak tepat akan berakibat terhadap pemakaian waktu yang tidak efisien. Penggunaan metode dalam satu mata pelajaran bisa menggunakan lebih dari satu macam (bervariasi). Metode yang variatif dapat membangkitkan motivasi belajar anak didik. Dalam pemilihan dan penggunaan sebuah metode harus mempertimbangkan aspek efektivitas dan relevansinya dengan materi yang disampaikan.Selan itu, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih dan mengaplikasikan sebuah metode pengajaran yaitu tujuan yang ingin dicapai, kemampuan guru, anak didik, situasi dan kondisi pengajaran, fasilitas yang tersedia, waktu yang diperlukan, serta kelebihan dan kekurangan sebuah metode.
Sebagai suatu metode, pengembangan filsafat pendidikan Islam biasanya memerlukan empat hal sebagai berikut :
Pertama, bahan-bahan yang akan digunakan dalam pengembangan filsafat pendidikan. Dalam hal ini dapat berupa bahan tertulis, yaitu al Qur’an dan al Hadist yang disertai pendapat para ulama serta para filosof dan lainnya ; dan bahan yang akan di ambil dari pengalaman empirik dalam praktek kependidikan.
Kedua, metode pencarian bahan. Untuk mencari bahan-bahan yang bersifat tertulis dapat dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi lapangan yang masing-masing prosedurnya telah diatur sedemikian rupa. Namun demikian, khusus dalam menggunakan al Qur’an dan al Hadist dapat digunakan jasa Ensiklopedi al Qur’an semacam Mu’jam al Mufahras li Alfazh al Qur’an al Karim karangan Muhammad Fuad Abd Baqi dan Mu’jam al muhfars li Alfazh al Hadist karangan Weinsink.
Ketiga, metode pembahasan. Untuk ini Muzayyin Arifin mengajukan alternatif metode analsis-sintesis, yaitu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis terhadap sasaran pemikiran secara induktif, dedukatif, dan analisa ilmiah.
Keempat, pendekatan. Dalam hubungannya dengan pembahasan tersebut di atas harus pula dijelaskan pendekatan yang akan digunakan untuk membahas tersebut. Pendekatan ini biasanya diperlukan dalam analisa, dan berhubungan dengan teori-teori keilmuan tertentu yang akan dipilih untuk menjelaskan fenomena tertentu pula. Dalam hubungan ini pendekatan lebih merupakan pisau yang akan digunakan dalam analisa. Ia semacam paradigma (cara pandang) yan g akan digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena.
Macam-Macam Metode dalam Pendidikan Islam Penjelasan tentang metode-metode yang dapat diaplikasikan dalam pendidikan Islam dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut :
1. Metode Keteladanan Keteladanan berasal dari kata teladan yang mempunyai arti perbuatan yang patut ditiru.Dalam Al-Qur’an kata teladan diproyeksikan dengan kata uswah yang kemudian diberi sifat di belakangnya. Seperti sifat hasanah yang berarti baik sebagaimana firman Allah yang tertera dalam surat Al-Ahzab ayat 21 :  
Artinya :
“Dan sesugguhnya pada diri Rasulullah itu ada tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan Allah” (Q.S. Al-11 Ahzab : 21)
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa Rasulullah SAW sebagai pendidik dapat diteladani oleh umatnya sehingga hal ini mengantarkan beliau pada keberhasilan. Keteladanan sebagai suatu metode digunakan untuk merealisasikan tujuan pendidikan dengan memberi contoh keteladanan yang baik kepada siswa agar mereka dapat berkembang dan memiliki akhlak yang baik dan benar. Secara psikologi, anak didik banyak meniru dan mencontohperilaku sosok figurnya termasuk di antaranya adalah para pendidik.
Kelebihan dari metode keteladanan di antaranya :
1) Memudahkan anak didik dalam menerapkan ilmu yang dipelajarinya di sekolah.
2) Memudahkan guru dalam menerapkan hasil belajarnya.
3) Agar tujuan pendidikan lebih terarah dan tercapai dengan baik.
4) Mendorong guru untuk selalu berbuat baik karena akan dicontoh oleh siswanya.
Kekurangan dari metode keteladanan, di antaranya :
1) Jika figure yang mereka contoh tidak baik, maka mereka cenderung untuk mengikuti tidak baik.
2) Jika teori tanpa prakltek akan menimbulkan verbalisasme.


2. Metode Pembiasaan Secara etimologi, asal kata pembiasaan adalah biasa yang berarti lazim, umum atau sudah merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.Dengan adanya prefiks “pe” dan sufiks “an” menunjukkan arti proses.
Dalam kaitannya dengan metode pengajaran pendidikan Islam, pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntutan ajaran agama Islam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatklan oleh Imam Abu Daud Nabi bersabda :
Artinya :
“Amir bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya dia berkata “Rasululah SAW bersabda : “Suruhlah anak-anakmu untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun” (H.R. Abu Daud).
Dari hadits di atas dapt dipahami bahwa sebelum anak mencapai usia baligh maka orang tua disuruh untuk mengajak sholat anak-anaknya terutama keitka ia berusia tujuh tahun, karena pada usia inilah saat yang sangat baik untuk menanamkan pembiasaan kepada anak sehingga ketika si anak telah mencapai usia baligh mereka sudah terbiasa untuk melaksanakan sholat. Oleh karena itu, pembiasaan merupakan cara yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai moral ke dalam jiwa anak.
Kelebihan metode pembiasaan, di antaranya :
1) Dapat menghemat waktu dan tenaga dengan baik.
2) Pembiasaan tidak hanya berkaitan dengan aspek lahiriyah tetapi juga berhubungan dengan aspek batiniyah.
3) Pembiasaan dalam sejarah tercatat sebagai metode yang paling berhasil dalam pembentukan kepribadian anak didik.
Kekurangan metode pembiasaan, di antaranya :
1) Kelemahan metode ini adalah membutuhkan pendidik yang benar-benar dapat dijadikan sebagai contoh tauladan di dalam menanam sebuah nilai kepada anak didik karena kebiasaan seseorang erat kaitannya dengan figure yang menjadi panutan dalam perilakunya.
2. Metode Pemberian Ganjaran Dalam bahasa Arab ganjaran diistilahkan dengan kata tsawab yang berarti pahala,upah dan balasan.Kata tsawab banyak ditemukan dalam Al-Qur’an, salah satu di antaranya, yaitu :
Artinya :
“Maka Allah memberikan ganjaran kepada mereka di dunia dan di akhirat dengan ganjaran yang baik, dan Allah cinta kepada orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. Ali-Imran : 16 148).
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa kata “tsawab” identik dengan ganjaran yang baik. Maka dalam kaitannya dengan pendidikan Islam ganjaran adalah pemberian balasan yang baik terhadap perilaku dari anak didik. Ganjaran dapat menjadi motivator bagi peserta didik dan lebih besar pengaruhnya dalam usaha perbaikan dari pada celaan atau sesuatu yang menyakitkan.Kelebihan dari metode pemberian ganjaran, yaitu :
1) Memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap jiwa anak didik untuk melakukan perbuatan yang positif.
2) Sebagai motivasi bagi anak didik lainnya untuk mengikuti anak yang telah memperoleh pujian dari gurunya. Kelemahan dari metode pemberian ganjaran :
1) Dapat menimbulkan dampak negatif apabila guru melakukannya secara berlebihan, sehingga mungkin bisa mengakibatkan murid merasa lebih Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Arab-Indonesia. (Yogyakarta : Pondok Pesantren Krapyak. 1996, cet 1, 638 baik dari temantemannya, selain itu bisa menimbulkan iri hati pada siswa yang lainnya.
2) Pada umumnya ganjaran membutuhkan biaya.
4. Metode Pemberian Hukuman
Hukuman merupakan siksa, hasl atua akibat yang dikenakan kepada orang-orang yang melanggar aturan. Dalam bahasa Arab hukuman diistilahkan dengan iqab yang berarti balasan.Di dalam Al-Qur’an kata iqab menunjukkan arti keburukan dan azab yang menyedihkan. Sebagaimana firman Allah :
Artinya :
“Dan barang siapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesunguhnya Allah amat keras siksanya” (Q.S. Al-Anfaal : 20 13).
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa kata iqab ditujukan kepada orang-orang yang berpaling dari aturan-aturan Allah. Dari definisi ‘di atas dapat dipahami bahwa hukuman adalah baslaan atas perbuatan yang tidak baik yang telah dilakukan oleh peserta didik.prinsip pokok dalam mengaplikasikan pemberian hukuman yaitu bahwa hukuman adalah solsusi terkahir dari metode-metode yang digunakan dan harus dilakukan secara terbatas.Selain itu, hukuman yang diebrikan haruslah mengandung makna edukasi dan bertujuan memperbaiki sikap dan perbuatan anak didik.
Kelebihan dari metode pemberian hukuman, di antaranya :
1) Akan menjadikan perbaikan-perbaikan terhadap kesalahan murid.
2) Murid tidak lagi menimbulkan kesalahan yang sama.
Kekurangan dari metode pemberian hukuman, di antaranya :
1) Akan membangkitkan suasana rusuh, takut, dan kurang percaya diri.
2) Mengurangi keberanian anak untuk bertindak.
3) Murid akan merasa sempit hati bersifat pemalas, serta penyebabkan ia suka berdusta (karena takut dihukum).
5. Metode Ceramah
Metode ceramah menurut Ramayulis yaitu penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap siswa di dalam ruangan kelas.Sedangkan Zuharini dkk. Mengemukakakn bahwa metode ceramah adalah suatu penyampaian materi kepada peserta didik yang dilakukan dengan penerangan dan penuturan secara lisan.Dari definisi di atas bahwa substansi dari metode ceramah yaitu menerangkan materi kepada peserta didik dengan penuturan kata atau lisan. Karkateristik yang menonjol dari metode ini adalah peran guru tampak lebih dominanan.
Metode ini berkenaan dengan firman Allah SWT :
Artinya :
“Sesungguhnya kami turunkan Al-Qur’an ini dengan berbahasa Arab, agar kamiu mengerti maksudnya. Kami riwayatkan kepadamu sebaik-baik certia dengan perantara Al-Qur’an yang kamu wahyukan kepadamu ini, padahal sesungguhnya engkau dahulu tidak mengetahuinya” (Q.S. 25 Yusuf : 2-3).
Ayat di atas menerangkan bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab, dan menyampaikannya kepada Nabi Muhamad dengan perantara malaikat Jibril melalui metode cerita dan ceramah.
Kelebihan dari metode ceramah antara lain :
1) Penggunaan waktu yang efisien dan materi yang disampaikan dapat sebanyak-banyaknya.
2) Melatih para pelakar untuk menggunakan pendengarannya dengan baik sehingga mereka dapat menangkap dan menyimpulkan sisi ceramah.
3) Tidak membutuhkan waktu yang lama.
Kelemahan dari metode ceramah, antara lain :
1) Guru kurang dapat mengetahui dengan pasti sejauh mana siswa telah menguasai materi.
2) Cenderung membosankan dan perhatian siswa berkurang.
3) Siswa cenderung bersifat pasif dan kemungkinan siswa memperoleh konsep yang berbeda dengan apa yang dimaksudkan guru.
4) Kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kecakapan dan kesempatan mengeluarkan pendapat
6. Metode Tanya Jawab
Metode Tanya jawab adalah cara penyajian materi pelajaran dalam bentuk pertanyan yang disyaratkan adanya umpan balik berupa jawaban dari guru kepada murid atau dapat sebaliknya.Metode ini termasuk metode yang paling tua di samping metode ceramah, namun efektifitasnya lebih besar dari metode yang lain. Karena, dengan metode tanya jawab, pengertian dan pemahaman dapat diperoleh lebih mantap sehingga segala kesalahpahaman dan kelemahan daya tangkap dapat dihindari semaksimal mungkin. Firman Allah yang berkaitan dengan metode Tanya jawab adalah :
Artinya :
“Bertanyalah kalian pada ahlinya jika kalian tidakmengetahui” (Q.S. An-Nahl : 43).

Pertanyaan pada metode Tanya jawab ini hendaknya dapat membangkitkan motivasi dan mendorong inisiatif anak didik sehingga mereka terangsang untuk belajar. Selian itu pertanyaan hendaknya diajukan kepada seluruh siswa di kelas, sehingga semua siswa dapat berperan aktif di kelas. Pemakaian metode Tanya jawab hendaknya untuk materi yang telah disampaikan.
Kelebihan dari metode Tanya jawab :
1) Situasi kelas akan lebih hidup karena anak-anak berfikir dan menyampaikan buah fikirannya.
2) Melatih anak agar berani mengungkapkan pendapatya secara lisan baik dan benar.
3) Timbuknya perbedaan pendapat antara anak didik akan menghangatkan proses diskusi kelas.
4) Guru dapat mengontrol pemahaman murid pada masalah yang dibicarakan.
5) Merangsang siswa untuk mengembangkan daya fakir, termasuk ingatan.
Kelemahan dari metode Tanya jawab :
1) Menggunakan banyak waktu dalam pelajaran,
2) Jalannya pengajaran kurang terkoorinir secara baik.
3) Dalam jumlah siswa yang banyak itdak mungkin melontarkan pertanyaan kepada semua siswa.
7. Metode Diskusi
Secara etimologis, diskusi berarti membuat sesuaut menjadi jelas dengan cara memecahkannya.Masyur mengemukakan bahwa diskusi adalah percakapan ilmiah yang berisikan pertukaran pendapat, pemunculan ide, serta pengujian pendapat yang dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok untuk mencari kebenaran.
Dari kedua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa metode diskusi adalah cara penyajian materi oleh guru dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan argumenya guna memecahkan suatu masalah. Jadi, metode diskusi tidak hanya percakapan atau debat, melainkan cara untuk mendapatkan jawaban dari pemasalahannya. Kelebihan metode diskusi :
1) Suasana kelas lebih hidup, sebab siswa dapat menyampaikan argumenya serta mengarahkan perhatian atau pikirannya kepada masalah yang sedang didiskusikan.
2) Dapat menaikkan prestasi kepribadian individu, misalnya : sikap toleransi, demokrasi, befirki kritis, sistematis, sabar dan lain-lain.
3) Membantu individu untuk mengambil keputusan yang lebih baik.
4) Tidak terjebak ke dalam pikiran individu yang kadang-kadang salah, penuh prasangka dan sempit.
Kekurangan dari metode diskusi :
1) Kemungkinan ada siswa yang tidak ikut aktif, sehingga diskusi baginya hanya merupakan kesempatan untuk melepaskan tanggung jawab.
2) Memerlukan waktu yang cukup panjang.
Metode Kisah
Metode ini adalah suatu penyampaian materi pelajaran dengan menuturkan kronologis tentang terjadinya suatu peristiwa baik benar atau berbentuk fiktif saja.Metode kisah diisyaratkan pada firman Allah dalam Al-Qur’an yaitu :
Artinya :
“Sesungguhnya di dalam kisah-kisah mereka terdapat ibarat 32 bagi orang-orang yang berakal” (Q.S. Yusuf : 111).
Metode kisah dalam pendidikan Islam menggunakan paradigma Al-Qur’an hadits SAW, sehingga dikenal istilah kisah qur’ani dan nabaqi. Kedua sumber tersebut memiliki substansi kisah yang valid tanpa diragukan lagi kebenarannya. Namun terkdang kevalidan sebuah kisah terbentur pada SDM yang menyampaikan kisah itu sendiri sehingga terjadi banyak kelemahannya. Maka untuk membatasi kelemahan tersebut setiap pendidik hendaknya memperhatikan benar alur cerita yang disampaikan, menyeleraskan tema materi dengan cerita yang akan disampaikan.
Kelebihan metode kisah :
1) Dapat mempengaruhi kecerdasan emosi siswa.
2) Dapat mengaktifkan dan membangkitkan semangat siswa. Karena mereka akan merenungkan makan dan mengikuti berbagai situasi kisah, sehingga anak didik terpengaruh oleh tokoh dan topic kisah tersebut.
3) Dapat meningkatkan konsentrasi anak untuk mengikuti peristiwa dan merenungkan maknanya.
Kekurangan metode kisah :
1) Bersifat monolog dan menjenuhkan
2) Sering ketidakselamatan antara isi serita dengan konteks yang dimaksud sehingga pencapain tujuan sulit diwujudkan.
9. Metode Pemberian Tugas atau Resitasi
Pemberian tugas adalah metode yang dilakukan dengan cara siswa mengambil sendiri bagian-bagian pelajaran dari buku-buku tertentu, lalu belajar dan berlatih sendiri sehingga siap bsebagaimana mestinya.Adapun pengertian lain dari metode resitasi adalah cara menyajikan bahan pelajaran di mana guru memberikan sejumlah tugas kepada muridnya, untuk mempelajari sesuatu, kemudian mereka disuruh untuk mempertanggung jawabkannya. Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan tujuanyang ingin dicapai, jenis tugas, tugas disesuaikan dengan kemampuan siswa, menyediakan waktu yang cukup dan ada sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa. Dalam Al-Qur’an, prinsip metode resitasi dapat dipahami dari ayat berikut :
Artinya :
“Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dalammu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah 34 bacaannya itu” (Q.S Al-Qiyamah : 17-18).
Kelebihan metode pemberian tugas atau resitasi :
1) Dapat dilaksanakan dalam berbagai bidang studi.
2) Murid berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian berkreatif, berinisiatif, bertanggung jawab dan mandiri.
Kekurangan metode pemberian tugas atau resitasi :
1) Dikhawatirkan jika tugas itu dikerjakan oleh orang lain atau menyalin pekerjaan teman.
2) Tugas yang sukar dapat mempengaruhi ketenangan mental murid.
10. Metode Sosiodrama
Sosiodrama terdiri dari dua kata yaitu “sosio” yang artinya masyarakat dan“drama” yang artinya keadaan seseorang atau peristiwa yang dialami seseorang, sifat dan tingkah lakunya.Metode sosiodrama adalah suatu metode mengajar di mana guru memberikan kesempatan kepada murid melakukan kegiatan memainkan peran tertentu seperti yang terdapat dalam kehidupan masyarakat (sosial).Metode ini bertujuan agar siswa dapat memahami perasaan orang lain, menggambarkan bagaimana membagi tanggung jawab, memecahkan masalah, serta melukiskan bagaimana seharusnya seseorang bertindak atau bertingkah laku dalam situasi dan sosial tertentu.
Kelebihan metode sosiodrama :
1) Melatih siswa untuk mendramatisasikan sesuatu serta melatih keberanian.
2) Anak-anak dapat menghayati suatu peristiwa, sehingga musah mengambil kesimpulan berdasarkan penghayatan sendiri.
3) Melatih siswa untuk bersosialisasi dengan orang lain.
Kekurangan metode sosiodrama :
1) Memerlukan waktu yang cukup panjang.
2) Perbedaan adat istiadat, kebiasaan dan kehidupan dalam masyarakat akan mempersulit mengaplikasikan metode ini.
Prinsip dasar metode sosiodrama terdapat dalam ayat Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 27-31 yang menceritakan drama yang sangat mengesankan antara Qabil dan Habil.Pada ayat tersebut memberikan gambaran yang jelas, bagaimana lakon yang dikerjakan oleh Qabil dan ia menyesali perbuatannya karena melihat perbuatan dirinya dari seekor burung gagak.
11. Metode Demonstrasi Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana berjalannya suatu proses pembentukan tertentu kepada siswa.
Metode demonstrasi dapat digunakan dalam penyampaian bahan pelajaran fiqh, misalnya bagaimana cara berwudlu yang benar, cara sholat, dan lain-lain. Sebab kata demonstrasi diambil dari kata “demonstration” yang artinya memperasakan atau memperlihatkan proses kelangsungan sesuatu.
Kelebihan metode demonstrasi :
1) Dapat merangsang siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran.
2) Dapat memusatkan perhatian anak didik.
3) Dapat mengurangi kesalahpahaman karena pengajaran menjadi lebih jelas dan konkrit.
4) Dapat menambah pengalaman peserta didik.
Kekurangan metode demonstrasi :
1) Memerlukan waktu yang relative lama.
2) Apabila terjadi kekurangan media, metode demonstrasi menjadi kurang efektif.
3) Bila siswa tidak aktif maka metode ini menjadi efektif.
12. Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok yaitu suatu cara menyajikan materi di mana guru mengelompokkan siswa yang terdiri dari beberapa orang untuk menyelesaikan tugas yang telah ditetapkan dengan cara bersama-sama dan bergotong royong.
Metode kerja kelompk dapat digunakan bila terdapat minat dan perbedaan individual anak didik, serta terdapat beberapa pekerjaan yang perlu diselesaikan dalam waktu yang bersamaan.
Kelebihan dari metode kerja kelompok :
1) Melatih dan menumbuhkan rasa kebersamaan dan toleransi terhadap sesama.
2) Timbul rasa kesetiakawanan sosial antara kelompok.
3) Anak-anak pandai dalam kelompoknya dapat membantu teman-temannya yang kurang pandai.
4) Menumbuhkan rasa ingin maju dan mendorong anggota kelompok untuk tampil sebagai kelompok terbaik.
Kelemahan dari metode kerja kelompok :
1) Persaingan yang tidak sehat akan terjadi manakala guru tidak dapat memberikan pengertian kepada siswa.
2) Sifat dan kemampuan individu keadaandan terasa terabaikan.
3) Bagi siswa yang tidak memiliki disiplin diri atau malas terbuka kemungkinan akan tetap pasif.
F.  Prinsip-Prinsip Penggunaan Metode Pendidikan Islam
Prinsip merupakan asas atas dasar yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak, dan sebagainya. Dalam hubungannya dengan metode pendidikan Islam berarti prinsip yang dimaksud di sini adalah dasar pemikiran yang digunakan dalam mengaplikasikan sebuah metode. Adapun prinsip-prinsip pelaksanaan metode pendidikan Islam itu adalah :
1. Prinsip agama, yaitu fakta-fakat umum yang diambil dari sumber ajaran Islam (Al-Qur’an dan Al-Hadits).
2. Prinsip biologis, yaitu prinsip yang meliputi pertimbangan kebutuhan jasmani peserta didik dan tingkat perkembangannya.
3. Prinsip psikologis, yaitu prinsip yang lahir di atas pertimbangan psiklogis seperti motivasi, emosi, minat, bakat dan kecakapan akal peserta didik.
4. Prinsip sosial, yaitu prinsip yang bersumber dari kehidupan sosial manusia seperti tradisi, kebutuhan-kebutuhan, harapan dan tuntutan kehidupan yang senantiasa maju dan berkembang.
5. Prinsip aktivitas, yaitu prinsip yang bersumber dari aktivitas peserta didik untuk mengambil bagian secara aktif dan kreatif dalam seluruh kegiatan pendidikan yang dilaksanakan.
6. Prinsip evaluasi, yaitu bersumber dari penilaian terhadap kemampuan yang dimiliki peserta didik sebagai umpan balik untuk memperbaiki cara mengajar di kemudian hari.
G.  Penutup
Islam dengan sumber ajarannya al Qur’an dan al Hadist yang diperkaya oleh penafsiran para ulama ternyata telah menunjukkan dengan jelas dan tinggi terhadap berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan. Karenanya tidak heran ntuk kita katakan bahwa secara epistimologis Islam memilki konsep yang khas tentang pendidikan, yakni pendidikan Islam.
Demikian pula pemikiran filsafat Islam yang diwariskan para filosof Muslim sangat kaya dengan bahan-bahan yang dijadikan rujukan guna membangun filsafat pendidikan Islam. Konsep ini segera akan memberikan warna tersendiri terhadap dunia pendidikan jika diterapkan secara konsisten. Namun demikian adanya pandangan tersebut bukan berarti Islam bersikap ekslusif. Rumusan, ide dan gagasan mengenai kependidikan yang dari luar dapat saja diterima oleh Islam apabila mengandung persamaan dalam hal prinsip, atau paling kurang tidak bertentangan. Tugas kita selanjutnya adalah melanjutkan penggalian secara intensif terhadap apa yang telah dilakukan oleh para ahli, karena apa yang dirumuskan para ahli tidak lebih sebagai bahan perbangdingan, zaman sekarang berbeda dengan zaman mereka dahulu. Karena itu upaya penggalian masalah kependidikan ini tidak boleh terhenti, jika kita sepakat bahwa pendidikan Islam ingin eksis ditengah-tengah percaturan global.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Hanafi, M.A., Pengantar Filsafat Islam, Cet. IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1990.
Prasetya, Drs., Filsafat Pendidikan, Cet. II, Pustaka Setia, Bandung, 2000
Titus, Smith, Nolan., Persoalan-persoalan Filsafat, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1984.
Ali Saifullah H.A., Drs., Antara Filsafat dan Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1983.
Zuhairini. Dra, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Cet.II, Bumi Aksara, Jakarta, 1995.
Abuddin Nata, M.A., Filsafat Pendidikan Islam, Cet. I, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar